Kerja Nyata Laila Istiana Menyalurkan Bantuan Kemenristekdikti

Info – Teknologi terbukti mempermudah pekerjaan manusia. Jika dulu orang baru berpikir mengapa burung bisa terbang, sekarang ratusan perjalanan menggunakan pesawat terbang meramaikan angkasa.

Jika dulu untuk mengirim surat manusia harus menuliskan di atas kertas kemudian menitipkannya di kantor pos, sekarang tinggal buka laptop, asal ada koneksi internet, surat terkirim. Cepat, tanpa harus keluar rumah.

Teknologi memang terbukti mempermudah pekerjaan manusia, tetapi juga mempersulit manusia lainnya. Gerakan nasional nontunai, misalnya, membuat sebagian manusia dimudahkan. Tidak perlu membawa uang tunai, tinggal tap atau gesek, masalah belanja, membayar tiket bus atau kereta api, sampai masuk tol beres. Tetapi ada manusia lain yang malah menjadi sulit. Banyak pegawai yang terpaksa dirumahkan akibat tenaganya sudah digantikan mesin.

Di bidang pertanian, teknologi memudahkan pekerjaan pak tani. Jika tadinya pak tani membajak sawah menggunakan tenaga kerbau, dengan adanya traktor tangan atau hand tractor, membajak sawah jadi lebih mudah dengan hasil berlipat ganda. Selain tanah yang dibajak lebih luas, hasil bajakannya lebih bagus. Bibit mudah ditanam, panen pun lebih berlimpah.

Alat pertanian hand tractor diberikan pemerintah kepada 26 kelompok tani di wilayah Sragen, Wonogiri, dan Karanganyar. Selain hand tractor, ada alat penyemprot hama atau hand sprayer yang diberikan kepada 12 kelompok tani di ketiga wilayah tersebut. Dengan bantuan alat pertanian tersebut, pekerjaan petani menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan hasilnya lebih memuaskan.

Anggota Komisi X DPR RI dari Partai Amanat Nasional, Laila Istiana Diana Savitri, mendata kelompok tani mana saja yang membutuhkan alat-alat pertanian, kemudian dengan kewenangannya mengajukan data tersebut ke pemerintah. Tidak ada imbalan apa pun untuk mendapatkan bantuan alat pertanian itu.

Di Desa Ngringo dan Desa Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Laila Istiana sudah menyalurkan mesin pengolah sampah bantuan Kementerian Ristekdikti. Tempat pengolahan sampah itu diberi nama Taman Krida Kusuma Asri Mandiri dan Taman Edukasi dan Pengolahan Sampah Mitra Amanah Jaten. Di kedua tempat pengolahan sampah tersebut, selain perangkat pengolahan sampah yang terdiri dari bak penampungan, mesin pencacah, tempat penampungan kedua, dan saluran biogas, terdapat gazebo untuk tempat belajar anak-anak, kolam ikan, dan tanaman sayuran.

Tempat pengolahan sampah di kedua desa tersebut bisa berkembang berkat partisipasi warga dengan bimbingan dari Politeknik Negeri Semarang. Biaya untuk membayar petugas pengumpul sampah dari rumah tangga ditanggung bersama warga. Masing-masing rukun tetangga menyumbangkan jumlah yang berbeda. Semakin banyak warganya yang turut memilah sampah dan menitipkannya, semakin ringan biayanya. Ada warga yang hanya membayar Rp300 karena di RT-nya banyak yang ikut berpartisipasi.

Petugas pengumpul membawa sampah rumah tangga ke tempat pengolahan sampah. Di tempat itu, sampah dipilah lagi sesuai kebutuhannya. Sampah dapur dimasukkan ke mesin pencacah. Lalu, sampah mengalir ke penampungan pertama. Sampah dibiarkan membusuk hingga beberapa hari. Kemudian dialirkan ke penampungan kedua. Sampai di penampungan kedua, sampah telah mengeluarkan biogas.

Biogas disalurkan melalui pipa ke rumah-rumah warga. Tanpa membayar sepeser pun, warga bisa memasak dengan menggunakan biogas. Memang belum bisa semua rumah teraliri biogas karena volume sampah yang masih terlalu sedikit. Baru rumah-rumah yang paling dekat dengan tempat pengolahan sampah yang bisa teraliri biogas.

Sebenarnya, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 sudah mengatur tentang pengelolaan sampah dari sumbernya. Pemilahan sampah dilakukan dari sumber penghasil sampah, dalam hal ini rumah tangga. Begitu pun dengan prinsip daur ulang sampah, yakni berupa reduce, reuse, dan recycle. Namun, belum banyak masyarakat yang sadar mengenai pentingnya mengelola sampah dari rumah tangga karena masih dianggap pekerjaan yang merepotkan.

(Visited 14 times, 1 visits today)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *