Laila Istiana Soroti Pengembangan Pariwisata

Pariwisata merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Pada 2018, pendapatan dari sektor ini mencapai 17 miliar dolar AS, naik dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp15 miliar dolar AS. Pada tahun 2019 ini, pendapatan dari sektor tersebut ditargetkan mencapai Rp20 miliar dolar AS. Pemerintah juga menargetkan sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar, mengalahkan kelapa sawit yang sebelumnya selalu menjadi penyumbang devisa terbesar.

Belum lama ini, Menteri Pariwisata, Arief Yahya, mengungkapkan bahwa sektor pariwisata Indonesia membukukan pertumbuhan nomor 9 di dunia versi badan pariwisata dan perjalanan dunia (WTTC). Dikatakannya, pertumbuhan wisata Indonesia pada 2017 mencapai 22 persen, lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan dunia yang 6,4 persen dan pertumbuhan ASEAN yang 7 persen. Namun, negara Vietnam mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni 29 persen.

Pemerintah juga sudah menargetkan 20 juta kunjungan wisatawan pada 2019 ini. Untuk mencapai target itu, pemerintah menetapkan 10 tujuan wisata prioritas yang disebut Bali Baru. Selain itu, pemerintah membutuhkan investasi sebesar Rp500 triliun untuk pengembangan tujuan wisata, pembiayaan usaha homestay, dan pembiayaan bagi UMK pariwisata.

Menurut Laila Istiana, anggota Komisi X DPR RI dari Partai Amanat Nasional, angka 20 juta wisatawan yang ditargetkan pemerintah untuk tahun 2019 ini sebaiknya berdasarkan hitungan yang benar, bukan hanya asal bapak senang. Ia mencontohkan warga Batam yang bekerja di Singapura yang dihitung sebagai wisatawan, atau warga Jakarta yang sering bolak-balik untuk bertugas di daerah. Mereka dihitung sebagai wisatawan domestik, padahal bepergian untuk bekerja, bukan berwisata.

Laila pun menyoroti promosi destinasi wisata yang tidak seimbang dengan pengembangan tempat wisata itu sendiri. Dalam sebuah kesempatan, Presiden pernah menyampaikan bahwa Kementerian Pariwisata membutuhkan anggaran Rp7 triliun untuk promosi. Saat itu Presiden meminta Kementerian Pariwisata terlebih dulu memperbaiki sarana dan prasarana di kawasan wisata. Laila memaparkan anggaran untuk pengembangan tempat wisata hanya Rp1,4 triliun, sementara untuk promosi luar negeri mencapai Rp3 triliun.

Tentu itu tidak seimbang. Ketika wisatawan sudah mau datang karena promosi, ternyata toiletnya kotor, infrastrukturnya jelek, dan pelayanan tidak memuaskan. Di Raja Ampat, promosinya gencar, namun fasilitas di dalamnya tidak seperti yang dipromosikan. Di Pulau Komodo, fasilitas untuk wisatawan asing memang cukup bagus, tapi wisatawan domestik malah diabaikan. Tentunya hal-hal itu menjadi promosi buruk untuk destinasi wisata tersebut.

Fasilitas toilet yang buruk juga terdapat di Candi Borobudur meski sekarang sudah mulai berbenah memperbaiki beberapa fasilitasnya. Di Dieng, akses menuju tempat wisata hanya satu, dan ketika ada acara seperti potong rambut gembel di bulan Agustus, jalanan yang hanya satu itu menjadi macet saking banyaknya orang berkunjung. Promosi bagus yang tidak dibarengi dengan fasilitas yang memadai hanya akan membuat orang kapok untuk datang kembali. Seharusnya para wisatawan tidak sekali saja berkunjung dan menjadi promosi juga bagi wisatawan lainnya.

Laila menjelaskan setiap tahun dirinya bisa menarik aspirasi dengan penyelenggaraan program bimbingan teknis bagi para pelaku pariwisata, seperti pemandu wisata dan biro wisata. Menurut dia, masih banyak pemandu wisata yang melakukan pekerjaan itu hanya sebagai sampingan. Jika mereka lebih diberdayakan dan diberi pengetahuan lebih, tentu profesi itu bisa sepenuhnya mereka jalankan.

Hingga tahun kelima masa jabatannya sebagai anggota dewan, Laila sudah mengadakan 18 kegiatan bimbingan teknis pariwisata. Ia berharap kegiatan bimbingan teknis ini bisa menjadikan para pelaku industri pariwisata lebih profesional dan memberikan pelayanan yang lebih baik.

(Visited 19 times, 1 visits today)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *